Friday, April 30, 2021

Hari Kedua Puluh Lima

Hari ini saya lelah sekali. Saya kurang tidur karena malam sebelumnya tidak bisa tidur, dibangunkan sahur pula. Paginya pun bangun cepat karena ada urusan.

Sepanjang hari mata saya sangat berat, sehingga ketika sore sampai rumah setelah beraktivitas dan berbuka bersama keluarga, saya memutuskan untuk tidur. 

Saya terbangun beberapa kali selama tidur saya yang cukup lama itu, pertama jam 9 malam. Namun karena masih berat matanya, saya memutuskan tidur kembali dan terbangun lagi jam 11 dan barusan. Penyebab saya bangun berkali-kali itu karena saya bermimpi.

Memimpikan kami...

Sialan!

Saya memimpikan diri saya berbicara kepadanya di rumahnya. Di ruang makan di mana saya sering menunggunya ketika dia sedang bersiap di kamarnya. Duduk di kursi kayu menghadap tembok berwarna merah yang terkena cahaya lampu berwarna kuning, yang membuat merahnya terlihat begitu hangat. Dia duduk di depan saya.

Kami bicara. Tak tahu apa yang kami bicarakan, tapi kami sedang bercengkrama dan tertawa. Seperti ketika kami masih bersama. Saya ingat tawanya. Begitu terasa nyata ketika tadi saya bermimpi tentang hal itu

Mimpi setelahnya pun serupa, hanya saja berbeda latar, namun masih di rumahnya, seperti di kamarnya dan di luar. Adegannya pun sama: saya bersama dia bercengkrama dan tertawa.

Selalu di rumahnya... Berbicara dan bercanda... bersama dia... Yang pernah menjadi rumah saya.

Ini adalah kali pertama saya memimpikan mimpi yang bernuansa rindu tentang dia pasca putus. Efek yang diakibatkan adalah tentu perasaan kangen. Ketika terbangun, saya langsung sangat-sangat-sangat gatal untuk melihat halaman media sosialnya, tapi tak saya lakukan karena saya tahu hal itu tidaklah sehat.

Saya belum siap menyambut perasaan sedih kemarin.

Lebih tepatnya saya tidak mau.

Saya pun memutuskan untuk tidak langsung tidur lagi sekarang. Takutnya terjadi mimpi yang sama dan paginya saya terbangun dengan perasaan nyeri di ulu hati dibarengi perasaan sayang yang lampau. Well... I guess I'm gonna binge watch Family Guy 'till morning.

Thursday, April 29, 2021

Hari Kedua Puluh Empat

Siang tadi ketika saya lagi menonton The Falcon and The Winter Soldier di TV kantor, tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Ternyata ada notifikasi WhatsApp, teman saya bernama Opik mengirim teks yang isinya menanyakan saya apakah saya masih menulis. Ketika saya bilang iya, dia langsung menelepon.

Inti dari pembicaraan lewat aplikasi WhatsApp itu adalah saya kembali diajak dalam proyeknya untuk menulis naskah suatu serial dalam jaringan yang digawangi oleh salah satu penyedia jasa Internet di Indonesia.

Melihat brief yang tidak terlalu rumit, tentu saya terima. Billing yang ditawarkan untuk menulis delapan episode mendekati UMR Jakarta. Bukan proyek menulis dengan bayaran paling besar yang pernah saya terima, namun karena permintaannya tidak ribet dan bisa membantu saya dalam mendukung hobi baru saya, saya senang. Parfum tidak murah soalnya.

Saya bertanya kepadanya, kenapa dalam proyek ini memilih saya? Jawabannya masih sama seperti yang sudah-sudah: dia menganggap tulisan saya bagus.

Karya saya diapresiasi. Saya senang.

Beberapa waktu lalu juga saya mengambil foto lewat ponsel di suatu gereja daerah Depok ketika sedang ada kegiatan syuting di sana. Setelah mengambil foto, saya sunting hasilnya dengan preset buatan saya di aplikasi Lightroom, kemudian saya unggah di story IG. Kemudian... BOOM! Banyak sekali balasan yang masuk memuji hasil jepretan saya, bahkan beberapa meminta file HD-nya untuk dijadikan wallpaper handphone mereka.

Saya diapresiasi dan saya senang.

Memang mendapatkan apresiasi atas karya atau hal yang kita lakukan itu perasaan yang membahagiakan.

Wednesday, April 28, 2021

Hari Kedua Puluh Tiga

Awal Mei nanti banyak sekali rencana yang ingin saya lakukan. Salah satunya adalah ke tattoo parlour untuk menggambar badan. Sebenarnya ini sudah lama ingin saya lakukan, namun tidak ada waktu melulu. 

Sebelumnya, ini saya jadwalkan akhir bulan April untuk pergi bersama dua orang teman saya, namun sudah semingguan DM saya tidak dibalas oleh akun Instagram tempat tatonya. Kemudian saya sadar untuk konsultasi atau buat janji ya memang seharusnya lewat kontak yang disediakan. Bodoh sekali memang saya. Haha.

Lalu selain itu saya ingin mengecat rambut lagi menjadi putih bersama teman saya yang berbeda. Awalnya dia curhat ingin mengecat rambutnya menjadi putih segaris, kemudian saya kok ya jadi mau juga. Haha.

Beberapa tahun lalu saya sempat mengecat rambut saya menjadi warna abu-abu. Tentunya itu tidak sesuai ekspektasi saya, karena saya ingin mengecatnya menjadi putih. Setelah melalui proses yang lama dan menyakitkan, jadilah rambut saya yang saya rencanakan berwarna putih tapi malah menjadi abu-abu. Lantas apakah saya kecewa? Tentu tidak, karena ternyata lumayan keren juga saat itu.

Kali ini saya ingin mencari tempat yang lebih kredibel. Toh saya juga membawa tumbal dahulu, yaitu teman saya. Ketika dia sudah terlihat hasilnya dan menjadi berwarna putih, saya tanpa pikir panjang akan melakukan proses  sama di tempat yang sama.

Kalau dia ternyata gagal, ya otomatis saya akan cari tempat lain dong. Kali ini pokoknya rambut saya harus berwarna putih. 😤

Tuesday, April 27, 2021

Hari Kedua Puluh Dua

Hari ini jari telunjuk kiri saya sudah pulih total dari luka beberapa waktu lalu. Sebelum event di Grand Hyatt jari telunjuk saya terpotong oleh cutter ketika saya sedang memotong kertas foto untuk cue card yang akan dipakai MC saat event berlangsung nantinya.

Cepat juga sembuhnya. Padahal teririsnya cukup dalam, tidak sampai putus sih, tapi ya cukup membuat darah bercucuran mengotori lantai dua sebuah ruko di komplek bisnis The Savoy daerah Jakarta Garden City.

Ketika teriris, sakit yang saya rasakan tidak langsung datang, ada jeda beberapa menit barulah rasa perihnya terasa. Sakitnya bertahan selama berhari-hari kalau tidak berminggu-minggu.

Jeda dulu baru sakitnya datang.

Itu yang saya khawatirkan akan terjadi kepada saya atas sakit yang lain. Ketika berpisah kemarin kebetulan rasa sakitnya langsung datang, membuat lima hari pertama menjadi hari-hari yang jauh sekali dari kata "menyenangkan". Setelahnya barulah berangsur-angsur rasa itu hilang. Takutnya gelombang kesedihan itu mampir lagi di waktu lain di masa depan pada saat yang tidak saya harapkan.

Saya pernah melihat pernyataan berkonsep menye-menye yang isinya kurang lebih bilang bahwa wanita dan pria setelah putus akan mengalami perjalanan yang berbeda. Pada wanita mereka akan galau di fase pertama, kemudian bahagia di fase kedua. Sedangkan pria kebalikannya, bahagia dulu baru galau setelahnya.

Dilihat dari yang sudah saya alami, kebetulan saya malah merasa sedih dahulu kemarin. Sekarang saya bisa bilang saya sudah move on dari perasaan sedih yang lampau. Lalu saya berpikir, bagaimana dalam perjalanannya, saya mengalami fase yang berbeda? Sedih, bahagia, lalu sakit kembali. Seperti ketika teriris yang memberikan sakit di awal, lalu kebas, dan barulah puncak perihnya datang.

Dengan segala pengetahuan yang saya punya dan apa saja yang saya lakukan, saya rasa tidak. Walaupun saya tidak bisa melihat ke masa depan, saya hanya bisa yakin kalau tidak.

Oh bagaimana dengan jarinya? Tentunya sudah tidak terlihat lagi lukanya...~

Good as new!

Monday, April 26, 2021

Hari Kedua Puluh Satu

Dari awal tahun saya sudah merencanakan mencari tempat untuk ngekos, tapi tidak ada upaya apa pun terkait hal itu sampai seminggu lalu. Hahaha.

Tujuan saya ingin ngekos bukan karena malas dekat dengan keluarga atau alasan lainnya yang berhubungan dengan masalah keluarga di rumah, keluarga di rumah baik-baik saja dan saya sama mereka juga tidak ada masalah apa pun. Saya merencanakan demikian karena saya kangen ngekos. Mau tinggal dan urus tempat yang saya tinggali sendiri

Hidup sendiri dengan orang-orang baru yang menjadi tetangga, bersosialisasi dengan mereka, dan mengurus segala hal berbau tempat tinggal sendiri. Hal-hal seperti itu yang saya rindukan. 

Seminggu lalu saya sudah coba mencari kosan daerah Cakung. Tujuannya ya tentu supaya dekat dengan tempat kerja juga. Saya mencari yang sudah lengkap: ada kasur, lemari, AC, dan hal lainnya, jadi saya tinggal datang dan menempatinya. Dana yang saya siapkan untuk biaya kos sebulan maksimal dua setengah juta.

Sudah memilah beberapa tempat yang kiranya berpotensi menjadi tempat tinggal dan berencana survei suatu saat nanti, lalu saya baru ingat tadi siang kalau Mei nanti mesti cari rumah di daerah Pondok Kopi atau Pondok Kelapa untuk disewa dijadikan kantor, karena kantor berencana pindah dari Cakung.

Dicoretlah daftar calon kos potensial dan saya urungkan niat ngekos lagi sampai pindah tempat kerja dahulu.

Kalau saya orang Sunda, mungkin saya sudah menggumam "sia-sia, sia." karena upaya saya seminggu belakangan tak berguna.

Sunday, April 25, 2021

Hari Kedua Puluh

Sudah masuk hari kedua puluh saya memulai terapi menulis ini. Saya tidak tahu apakah sekarang perasaan saya membaik karena menulis atau karena memang waktu yang menjadi obat mujarab. Entahlah, mungkin  keduanya berperan penting dalam proses penyembuhan. Juga banyak faktor lainnya di luar itu.

"Tidak lagi cinta" tentunya bukan salah satu faktor.

Ketika kami berpisah, saya masih amat sayang kepadanya. Itulah alasannya kenapa semua rentetan peristiwa kemarin beserta latar belakangnya berakhir begitu menyakitkan untuk saya. Saya tidak siap untuk tidak menyayanginya lagi seperti enam setengah tahun sebelumnya.

Semenjak itu rasa sayangnya saya paksa untuk pudar. Tidak hilang, hanya berkurang. Kalau tidak saya paksakan, bisa saya bayangkan kalau saya saat ini masih belum bisa berfungsi dengan baik karena masih dilanda rasa amat sakit di hati, yang juga pada akhirnya mempengaruhi kondisi kesehatan fisik saya.

Kini pun masih ada rasa sayang walaupun tidak seperti dulu.

Kemarin adalah minggu ketiga kami berpisah, dan hari ini adalah minggu ketiga kami terakhir bertatap muka jarak jauh. Sayangnya tidak secara langsung karena kondisi tidak memungkinkan, namun untuk situasi seperti ini saya rasa sudah cukup.

Saya bilang kepada dirinya ketika video call tiga minggu lalu kalau alasan saya mengajaknya bertatap muka virtual adalah untuk melihatnya sekali lagi. Mengobrol dengan melihat wajahnya yang masih terbingkai di kepala sebagai sosok pasangan saya. Saya senang melihatnya saat itu, namun juga sedih.

Di saat-saat terakhir hubungan kami, saya tidak bisa memeluknya sambil membisikkan kalimat perpisahan. Berterima kasih kepadanya karena dia sudah menemani saya menjalani hubungan yang menyenangkan bersama saya selama enam setengah tahun ke belakang. Juga meminta maaf kepadanya atas segala kesalahan saya selama ini.

Hal-hal seperti itu sebenarnya ingin saya sampaikan secara langsung sambil memeluk tubuhnya yang kecil bila dibandingkan badan saya yang tinggi, dan mengecup kening dia untuk terakhir kalinya, namun tidak bisa karena jarak dan waktu menjadi penghalang. Panggilan video adalah satu-satunya cara yang mendekati, paling tidak saya bisa melihatnya.

Tiga minggu sudah ya ternyata. Sekarang saya melihat saya sudah berada di tempat yang berbeda dengan saya yang tiga minggu lalu. Not totally healed yet, but better than before.

Saya tidak tahu bagaimana kabar dia sekarang karena salah satu cara saya move on adalah tidak berkomunikasi aktif dan pasif dengannya sampai saya benar-benar pulih, namun saya berharap untuk dirinya agar pasca berpisah kemarin dia tidak berlarut-larut dalam biru, fokus kepada dirinya agar bisa menjadi lebih baik, dan dapat lekas menggapai impiannya.

Sekarang ini, murni saya sangat berharap dia bahagia.


Saturday, April 24, 2021

Hari Kesembilan Belas

Saya baru saja selesai mengerjakan event Paskah dari suatu BUMN yang amit-amit panitianya. Sulit dihubungi, banyak input yang masuk pada detik terakhir, revisi yang datang di penghujung tenggat waktu karena respon interal mereka yang lama. Tapi tentunya berakhir dengan kesuksesan.

Bukan event teribet, tapi maha rempong.

Walaupun begitu orang-orangnya ramah dan menyenangkan. Namun untuk kerja sama kembali sepertinya kami tidak mau lagi. Itu pun yang disampaikan rekan saya.

Saya banyak sekali mengobrol tentang agama dengan beberapa klien instansi ini. Wawasan saya tentang agama sebelah makin bertambah. Mendapatkan insight lebih. Hell, bahkan saya tertarik untuk datang ke gereja lagi.

Tapi seperti yang saya bilang tadi, untuk kerja sama sepertinya tidak lagi. Sangat disayangkan, padahal saya akan senang sekali kalau hubungan ini akan menjadi pertemanan di kemudian hari. Tentunya untuk menjadi teman, frekuensi komunikasi harus diperbesar agar kedekatan yang lebih kuat tercipta, melalui kerjaan contohnya. Tapi yaaa gimana ya? Hahaha.

 Aaah, andai saja mereka lebih profesional.

Friday, April 23, 2021

Hari Kedelapan Belas

Move on bagi saya bukanlah melupakan sang mantan, melainkan ketika saya tidak diam di tempat. Bergerak maju ke depan. Menapaki kaki di tempat yang berbeda dari tempat sebelumnya.

Intinya adalah tidak di situ-situ saja.

Supaya tidak di tempat yang sama terus-menerus, hal yang saya lakukan adalah menambah wawasan. Belajar hal baru bahkan untuk hal paling kecil sekalipun.

Belanja minuman baru yang belum pernah saya minum sebelumnya di Indomaret. Membaca sesuatu yang tadinya tidak pernah saya sentuh. Pergi ke tempat yang dulu adalah asing buat saya.

Menambah wawasan.

Hal itu sedikit membantu proses move on saya secara tidak sadar. Hingga belakangan ini saya pikir saya sudah merasa biasa saja karena saya pikir saya sudah move on. Tak ada yang perlu dikhawatirkan perihal perasaan lampau yang diakhiri kekecewaan. Batin aman.

Saya jumawa.

Karena kepongahan tersebut, saya pun kemarin menjadi bandel. Saya bebal mencoba menguntit dia, padahal otak sudah sangat berteriak "WOI JANGAN WOI! GALI KUBUR ITU NAMANYA!". Tepat seminggu setelah saya memutuskan untuk tidak mengunjungi halamannya, saya malah mengunjungi halamannya.

Tekad saya ternyata tidak sekuat itu untuk tidak memedulikannya.

Ya bisa ditebak, setelah berhubungan pasif dengannya, perasaan sendu muncul kembali. Jantung berdegup kencang tiba-tiba setelah membaca beberapa cuitannya. Ada perasaan negatif kembali datang ke benak saya. Saya tidak bisa bilang apa itu, karena saya sendiri tidak tahu. Pokoknya saya kembali merasa murung, bahkan terbawa mimpi.

Tapi... Saya masih bisa bilang saya tetap move on, karena saya memang tidak di situ-situ saja. Saya bergerak maju ke depan. Rasa negatif ini tidak begitu kuat seperti sebelumnya, itu termasuk maju ke depan.

Move on bagi saya ya seperti itu. Bukanlah melupakan dia. Karena otak manusia gunanya untuk mengingat, bukan melupakan. Tidak bisa saya melupakan secara disengaja kenangan kami ketika bahagia, senyumnya, dan hangat pelukannya ketika saya sedang kedinginan saat menuruni bukit Gunung Kidul di malam hari.

Saya sadar akan hal itu. Tapi saya sangat berharap kalau saat ini saya bisa sebaliknya.

Memang stalking itu racun. Huh.

Thursday, April 22, 2021

Hari Ketujuh Belas

Seperti yang saya bilang kemarin, saya hari ini ingin menginap di kantor karena ingin tidur nyenyak saja tanpa ada gangguan untuk bangun sahur.

Tetapi...

Saya masih terjebak meeting virtual dengan klien dari jam 7 malam sampai jam setengah 12 lebih.

Panitia dari pihak klien untuk event besok ternyata guoblok sekali. Saya yang terhitung masih baru dalam dunia event saja sampai geleng-geleng.

"Kok bisa ya mereka di sana?" Saya membatin sendiri, sampai akhirnya saya kembali sadar kalau di dunia nyata ini keahlian bukanlah apa-apa kalau tidak didukung dengan keberuntungan.

Sebenarnya masih mau menulis banyak tentang hoki, tapi sayangnya meeting masih berjalan sehingga bisa dibilang saya tidak terlalu beruntung untuk menulis tentang beruntung.

Ya, rencana menginap di kantor untuk bisa tidur nyenyak malam ini hanyalah angan...~

Wednesday, April 21, 2021

Hari Keenam Belas

Hari ini saya baru pulang ke rumah setelah kemarin menginap di tempat kerja lagi. Alasannya pun masih sama, karena ingin saja. Malas ada di rumah.

Tidak, saya tidak sedang ada konflik dengan keluarga. Hubungan dengan kedua orang tua baik, dengan adik-adik pun sama baiknya. Lalu kenapa bisa malas di rumah? Simpel saja, karena dibangunkan untuk santap sahur tiap pagi.

Sejak tahun lalu--ketika saya sudah hidup di Bekasi--saya sadar betul kalau kualitas tidur saya berkurang ketika bulan Ramadan. Bangun subuh untuk makan, lalu tidur lagi beberapa jam sampai pagi berangkat beraktivitas, lalu belum sampai siang malah sudah mengantuk lagi. Terlebih misal di malam sebelumnya saya begadang mengerjakan sesuatu lebih dahulu, tambah parah kualitas tidurnya.

Hanya bisa ditebus ketika weekend, leyeh-leyehnya.

Jadi ya sebelum Ramadan kemarin saya sudah mengutarakan hal itu ke teman-teman saya, ternyata teman saya pun merasa sama. Haha. Tercetus lah ide menginap di kantor tadi.

Hari ini saya kembali ke rumah. Namun besok saya berencana menginap lagi sampai event Sabtu nanti selesai. Kenapa? Supaya tidak sahur dong...~

Tuesday, April 20, 2021

Hari Kelima Belas

Hari ini saya pergi ke Gereja Katolik St. Thomas yang terletak di Depok untuk bertugas menemui romonya. Tentu saya masih belum mau pindah ke server Katolik untuk saat ini, ke sana hanya untuk ambil video terkait event Paskah yang akan diadakan BNI Sabtu nanti.

Saya orang yang suka mengobrol kadang-kadang. Apalagi ketika bertemu orang hebat yang paham akan suatu hal yang saya kurang mengerti, saya pasti akan banyak bertanya. Begitu pula sore tadi, saya bertanya banyak kepada sang romo tentang ketuhanan. Obrolan yang sebenarnya bagi saya akan terasa aneh jika diobrolkan bukan pada tengah malam.

Romonya asik. Masih muda. Dia bisa berkomunikasi dengan bagus, bahasanya mudah dimengerti, dan ditambah dia lucu dengan segala lelucon om-omnya.

Di akhir pertemuan kami, saya bertanya untuk terakhir kalinya. Pertanyaan yang sebenarnya tak ada sangkut pautnya dengan agama. Pertanyaan yang bulan lalu saya dapat secara tidak langsung, tidak bisa saya jawab, dan masih terpikir sampai sekarang.

"Romo, apa arti kebahagiaan untuk Anda?" Tanya saya.

Tentunya saya perjelas bahwa yang saya tanyakan adalah bahagia menurut romo sebagai seorang pemuda bernama David. Bukan sebagai pelayan Tuhan. Dia bisa menjawabnya, namun masih terlihat masih membawa agama di dalam jawabannya dan tidak seluwes ketika dia menyampaikan firman Tuhan.

Nampaknya pertanyaan seperti itu memang pertanyaan yang sulit dijawab. Sampai saat ini pun saya belum mendapatkan jawaban yang bagus dari orang-orang, pun saya masih belum bisa menjawabnya. Haha.

Monday, April 19, 2021

Hari Keempat Belas

Sore tadi sepulang meeting dengan klien di Grha BNI, saya mendapatkan kabar yang buruk dari kakak saya, Mas Ditto.

Dia mengabarkan saya bahwa beliau didiagnosa menderita penyakit Bell's Palsy. Waduuuuh!

Sekarang ini dia merasakan muka sebelah kanannya mati rasa, dimulai dengan lidah yang kebas terlebih dahulu. Bisa dikarenakan virus, rasa lelah, atau terpapar AC secara langsung ke mukanya.

Mendengar kabar tersebut saya otomatis sangat terkejut. Saya yang khawatir langsung meneleponnya setelah membuka kabar yang dia kirim lewat teks.

Dia terdengar optimis. Mendengar keadaan terkini dan optimismenya, saya menjadi optimis pula kalau dia pasti bisa pulih nantinya.

Memang dengan menjadi optimis adalah satu-satunya cara agar mental tidak memperburuk keadaan. Saya sangat berharap badainya akan segera berlalu. 

Saya tidak bisa berdoa ke Tuhan mana pun. Tapi saya sangat berharap agar orang yang sangat saya hormati; saya jadikan panutan; saya junjung tinggi, segera membaik. 

Sunday, April 18, 2021

Hari Ketiga Belas

Aaah... 13 (tiga belas).

Saya sempat suka angka itu. Angka yang banyak orang anggap angker, namun bagi saya angka tersebut pernah sangat spesial. Karena itu adalah angka kami. Hubungan kami diiringi angka itu ke mana-mana. 

Kami pertama kali bertemu pada hari Jum'at tanggal 13. Kami memutuskan untuk berkomitmen pun pada tanggal 13. Semua tanpa direncanakan. Alam semesta yang mengatur bahwa kami adalah pasangan yang memiliki hubungan erat dengan 13.

Angka mistis yang menurut kami malah romantis.

Di hari ketiga belas ini sebenarnya saya mau menulis banyak tentang saya dan dia yang pernah menjadi kami. Dua sejoli yang pernah dituntun oleh angka tiga belas selama enam setengah tahun berhubungan. Tetapi saya sadar betul kalau bercerita panjang lebar tentang hal itu malah akan membuat saya bernostalgia dan mengantarkan saya ke rasa kecewa pada akhirnya.

Saya tidak mau mengambil resiko itu.

Saya tetap merindunya. Saya tetap menyayangi dirinya. Namun perasaan tersebut tidaklah sama seperti beberapa waktu lalu. Tetap ada, namun tak sama. Tidak lagi menggebu-gebu, malah perlahan memudar dan berganti menjadi rasa peduli yang berbeda.

Tiga belas pun menjadi biasa saja.

Saya sempat suka tiga belas, karena itu adalah angka keramat untuk kami.

Angka kami... Dulu.

Saturday, April 17, 2021

Hari Kedua Belas

Hari Jumat kemarin saya memutuskan untuk menginap di tempat kerja, baru pulang sore tadi. Padahal tiap Jumat itu libur, tapi entah kenapa lagi ingin saja. Terbawa kebiasaan forsir diri sendiri untuk datang ke tempat kerja pasca berpisah sehingga ketika sudah tidak murung pun tetap dilakukan? Tidak juga. Saya memang lagi ingin saja haha.

Bicara tentang perasaan, tepat dua minggu setelah diputusi ini saya sudah tidak lagi muram. Tidak lagi sedih seperti lima hari pertama. Saya rasa memang jurnal ini membantu, tapi saya melakukan hal lain juga agar tak lagi terisak.

Saya sudah tidak kuntit mantan pasangan lagi salah satunya. Awal-awal selalu gatal ingin membuka halamannya, namun sekarang gatal itu sudah banyak berkurang. Hanya sedikit gatal.

Memang menghentikan (atau mengurangi) berinvestasi ke dia itu adalah hal yang tepat dilakukan.

Friday, April 16, 2021

Hari Kesebelas

Pagi buta tadi saya baru saja membeli parfum yang menjadi incaran saya sebulan belakangan ini dari grup komunitas parfum di Facebook dengan harga yang murah. Parfum yang saya cari ini memang sedang sulit ditemukan di beberapa daftar toko online terpercaya yang menjual parfum asli. Parfum yang saya beli adalah Yves Saint Laurent Y EDP.

Saya membelinya sepaket dengan parfum Prada L'Homme Intense yang memang saya inginkan, tapi tidak berencana membelinya sekarang. Hitungannya kalau membeli keduanya saya untung banyak. Tidak begitu murah, tapi ya saya dapat good deal. Apalagi mengingat parfum itu sedang langka. Di toko offline sih ada, tapi saya agak kurang sreg saja kalau membeli dengan harga ritel. Haha.

Yaaah, duit lagi deh. Tapi tak apa, saya senang.

Sebelumnya saya sudah menyiapkan beberapa juta untuk saya pergi ke Jogja menemui partner saya kemarin, lalu kami bersenang-senang dengan maksimal untuk semacam "refresh" hubungan kami. Tapi ya ternyata kami berpisah, jadi dananya menganggur. Uang untuk ditabung, investasi, dan macam-macam sudah ada alokasi sendiri, jadi itu murni untuk hal lain. Mau beli gawai baru, tapi baru saja ganti awal Maret lalu. Makanya ketika kebetulan ada kesempatan menghabiskannya untuk hobi baru, langsung saya sambut dengan tangan yang terbuka lebar. Haha.

Yang penting saya senang.

Thursday, April 15, 2021

Hari Kesepuluh

Hari ini saya tidak stalk dia.

Wow!

Saya tidak menyangka akan bisa pada akhirnya. Sulit memang, ada saja rasa gatal untuk menengok halamannya. Tapi tidak, saya bisa! Sekarang tinggal melakukan langkah selanjutnya agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan.

Ya sebenernya juga saya belakangan ini tidak dilanda galau berlebih. Saya yakin kalau saya sudah bergerak maju ke depan dan tidak diam di tempat.

Saya rasa menulis seperti ini memang membantu.

Ya, sudah hampir dua mingguan kami berpisah. Dibanding saya di lima hari pertama, saya yang sekarang memang sudah jauh berbeda.

Jauh lebih baik.

Saya bersyukur saya tidak memaksakan diri melakukan hal-hal destruktif ke diri saya seperti mencari fling, hookup, pelarian, atau apalah itu istilahnya ketika diri saya belum siap. Melainkan fokus kepada diri sendiri dengan menyibukkan diri mengenal hal baru agar wawasan atau keahlian bertambah. Dengan begitu ketika badai berlalu, saya menjadi Omar yang lebih baik pula.

Untungnya kemarin saya sadar kalau saya belum siap dan tidak gegabah. Sepertinya saya mengenali diri saya lebih banyak ketimbang yang saya kira. Hahay.

Wednesday, April 14, 2021

Hari Kesembilan

Hari ini saya melakukan kegiatan yang sudah lama sekali tidak saya lakukan, yaitu: Menonton di bioskop!

Senang sekali rasanya saya bisa menonton lagi di bioskop. Bukan karena pandemi... Well, karena pandemi sih iya, tapi juga karena film yang saya minati tidak ada saja dalam setahun ini. Baru hari ini saya menonton karena ada film Mortal Kombat. Saya langsung habis-habisan tadi.

Biasanya ketika masih bersama sang partner, saya dan dia suka menyelipkan makanan dan minuman untuk dilahap di dalam teater sembari menonton. Kadang-kadang saja membeli makanan bioskop kalau sedang ingin. Tadi karena posisinya sedang ingin, ya saya beli makan dan minum di bioskop. Haha.

Terakhir kali saya menonton bioskop sepertinya bersama dia. Saya tidak begitu ingat film apa, tapi saya ingat adanya dia bersama saya di sebelah bangku bioskop yang saya duduki. Berarti sudah lebih dari setahun lalu.

Bicara tentang dia, saya mulai kemarin memantapkan diri untuk mute segala media sosialnya. Hal itu saya lakukan untuk membantu proses pulihnya hati saya. Agak sulit untuk hari ini, karena saya dalam enam tahun berhubungan kayaknya setiap hari stalk dia, untuk tahu apa yang dia sedang keluhkan ke orang banyak, apa saja cuitan jenaka dan pintar yang kadang dia lontarkan, atau hal sedih apa yang sedang dia rasakan. Tapi terhitung sejak 13 April kemarin, saya coba untuk menghentikan itu dan membisukan segala aktivitas sosial medianya agar tak muncul di timeline saya. Tapi ya saya memang keras kepala saja hari ini, masih main ke halamannya dan melihat apa kegiatannya. Huh.

Mulai besok deh saya akan total. Tapi...

Sulit.

Tapi ya mau bagaimana lagi, saya harus. Kalau tidak ya saya akan terus berinvestasi pikiran ke dia yang membuat rasa cinta saya tidak pudar. Mengingat kami sudah berpisah, hal itu justru akan membuat saya sakit. Cukuplah 10 hari pertama saja saya kencanduan rasa sakitnya, tak perlu dilanjutkan.

Saya harus mengingatkan diri saya kalau saya bukanlah seorang masokis.

Yuk bisa, Mar!

Tuesday, April 13, 2021

Hari Kedelapan

Sudah lewat beberapa hari saya bangun dengan perasaan enak, tidak ada mimpi atau pikiran negatif di awal hari yang merusak keseluruhan kegiatan dalam satu hari. Saya sempat senang.

Tapi pagi ini kembali lagi hal-hal negatif itu karena mimpi yang kurang mengenakkan.

Saya bangun dengan perasaan muak. Tak pakai lama saya langsung berolahraga di ruang tamu. Kebetulan semua orang rumah masih tidur, jadi tidak ada pertanyaan kenapa berolahraga padahal hari puasa. Tidak mungkin juga saya jawab karena sedang gusar, nanti malah ada pertanyaan lanjutan. Haha.

Dan ya, ini adalah hari pertama Ramadhan. Saya sendiri sebenarnya tidak menjalani ibadah tersebut,  namun di hari pertama ini saya sahur, berpuasa, berbuka, dan tarawih dengan sempurna dan dengan keluarga. Yaaaa, hanya sekadar ritual untuk menghargai suatu keyakinan yang pernah saya peluk.

Besok sih sudah tidak.

Monday, April 12, 2021

Hari Ketujuh

Saya pernah mendengar ada celetukan bahwa orang yang sedang patah hati memiliki aura berbeda yang membuat pelakonnya menjadi lebih menarik di mata orang.

Sudah lebih dari seminggu saya merasakan demikian. Saya mendapatkan lebih banyak pujian yang terkesan haus ketika patah hati kemarin ketimbang ketika saya sedang bahagia.

Terakhir adalah siang hari ini ketika saya sedang di hotel Grand Hyatt Jakarta untuk mengerjakan sebuah event. Tidak tahu apa yang menyebabkan perhatian lebih ini datang kepada saya belakangan ini, walaupun merasa aneh tapi saya tidak bilang kalau tidak suka juga. Ya, hanya pasrah saja seperti yang sudah-sudah.

Yang sudah ya sudah. 

Sunday, April 11, 2021

Hari Keenam

Sekarang jam 11 malam lebih, menuju akhir tanggal 11 April.

Saya lapar.

Sedang di hotel, tapi malas sekali memesan makanan dari dapur hotel. Biasanya tidak enak.

Di sisi lain, sebentar lagi saya harus ke Grand Hyatt Jakarta untuk set up perlengkapan event besok.

Saya beruntung karena sibuk. Jadi otak saya tidak banyak mengawang-awang karena senggang.

Lambat laun saya yakin perasaan tak enak ini bisa pudar.

Pelan-pelan...

Saturday, April 10, 2021

Hari Kelima

Seminggu sudah saya berpisah dengannya.

Saya sekarang merasakan... Lebih baik? Ya, mungkin demikian. Lebih baik dari lima hari pertama tentunya.

Saya tadi bisa sedikit menikmati makanan yang saya santap.  Bagusnya lagi saya tidak mual! Yay for me, I guess.

Sebelumnya saya sangat tidak nafsu makan, kalau makan pun akan mual. Asam lambung tidak berada pada kadar seharusnya. Jadi saya makan hanya supaya perut terisi saja. Lumayanlah, anggap saja sedang dibantu oleh perasaan untuk mengurangi porsi makan alias diet. Dalam seminggu hampir 5 kilo saya turun berat badan. Namun saya tetap olahraga rutin. Hasilnya? Perut saya mengecil dan tone otot perut mulai terlihat.

Ada hal positif di dalam kesedihan.

Rasa sedih pun sudah mulai berkurang dalam seminggu ini. Bahagia sepenuhnya sih belum, tapi saya dalam perjalanan menuju ke sana. Kini hanya tersisa kecewa dan rasa kesal.

Tapi kemarin pagi buta kedua perasaan tadi bertemu kembali dengan teman lama: perasaan sedih.

Pada jam 3 pagi saya membaca pesan lama kami di WhatsApp. Bodoh memang.

Friday, April 9, 2021

Hari Keempat

Hari ini saya tidak mengalami kesedihan yang mendalam lagi, sama persis dengan hari kemarin.

Awan-awan mendung kemurungan masih terus berada di atas kepala saya sambil sesekali mengeluarkan kilatan petir, tapi tidak sampai menyakiti hati saya.

Perlahan saya sudah bisa berpikir agak jernih, walau terus saja ada bayangan hitam di belakang saya yang membisikkan racun-racun mematikan. Namun saya belajar untuk tidak mendengarkannya.

Pernah belajar tentang romansa ternyata memang agak membantu ketika saya sudah bisa berpikir lagi. Pelajaran-pelajaran yang saya terima dulu sedikit demi sedikit jadi teringat dan menuntun saya untuk berjalan maju ke depan.

Ketika saya berpisah via telepon dengannya lalu, beberapa kali saya mengucapkan "yang sudah ya sudah." Karena ya mau bagaimana lagi? Hati saya sudah tercabik. Sakitnya sudah terasa. Tentunya saya bilang begitu karena saya tahu harus pasrah, namun pada saat itu saya sendiri tidak bisa mengamini ucapan saya tersebut.

Hari ini saya bisa sedikit pasrah. Tidak sepenuhnya, tapi walau sedikit pun itu sudah menunjukkan ada kemajuan. Yang sudah terjadi tidak bisa diulang, kerusakannya tidak bisa dicegah supaya perpisahan tak terjadi. 

Rasa marah masih ada, tapi tidak sebesar rasa kecewa. Saya masih menyayangkan semua kejadian ini.

Tapi ya mau gimana lagi?

Yang sudah ya sudah...

Thursday, April 8, 2021

Hari Ketiga

Saya cukup senang ketika hari ini ternyata tidak sesendu hari-hari sebelumnya. Makan saya sudah agak saya bikin benar walaupun belum begitu menikmati apa yang saya santap dan mual masih saja terasa, tapi sudah ada kemajuan lah. Saya mulai sadar akan raungan badan saya yang kesakitan. Saya mendengarkan tubuh saya.

Pagi tadi tentu masih seperti sebelumnya, tapi kabut-kabut murung hanya sementara. Datang dan pergi, tapi  singgahnya tidak dalam waktu yang lama.

Sebenarnya saya berencana menulis di blog ini setiap sedang berada di puncak emosional saya di satu hari, tapi hari ini saya tidak merasakan perasaan yang kuat terkait patah hati seperti hari-hari sebelumnya. Di hari awal-awal berpisah, saya sangat emosional dan merasakan lonjakan emosi yang bisa datang berkali-kali dalam sehari. Memancing air mata untuk turun ke pipi di waktu-waktu yang tidak terduga. Namun hari ini tidak.

Wow, tunggu... setelah menulis beberapa kalimat di atas, saya juga baru sadar kalau saya sekarang ini sangat cengeng. Padahal saya tahu kalau saya tidak demikian, bahkan saya termasuk orang yang sulit mengekspresikan kesedihan dengan air mata. Namun baru detik ini ketika menulis itu saya sadari kalau saya sekarang adalah kebalikannya.

Wow, I put my pride away just to acknowledge that...

Wow, patah hati seserius itu ternyata. Menakutkan sekali ya efeknya.

Mungkinkah itu juga berarti saya makin mengenali diri sendiri? Hmmm...

Entahlah, yang jelas saya hari ini tidak merasa sesendu biasanya. Saya tidak bergerak di tempat. Good job, me!

Semoga berlanjut. 

Wednesday, April 7, 2021

Hari Kedua

Sepertinya pagi saya akan selalu diawali dengan perasaan negatif untuk waktu yang cukup lama. Mimpi buruk sih nggak selalu. Monolog dengan diri sendiri tiap bangun itu yang sangat mengganggu mental saya. Belum lagi ditambah cuplikan adegan keparat yang kadang muncul di kepala.

Di hari kelima ini saya makin merasakan efek buruk patah hati yang langsung menyerang fisik saya. Rasanya semakin lemas dan gampang pusing. Makan tentu masih tidak enak. Kemarin saya coba untuk pergi ke McDonald's setelah pulang bekerja untuk membeli satu beefburger beserta satu cola float. Demi Odin rasanya menjadi tidak enak! Baru kali ini saya yang tidak demam tidak habis memakan dua menu itu. Biasanya kalau sedang sakit demam saya memang sulit menghabiskan makanan mau seenak apa pun itu, termasuk dua menu tadi. Kali ini saya tidak demam dan saya tidak habis. Mual pula rasanya.

Efek sakit yang terletak di mental sepertinya berbanding lurus dengan sakit secara fisik.

Tadi sore lebih parah. Masih mencoba untuk makan makanan enak, usai pulang bekerja saya pergi ke mall untuk beli makanan di gerai A&W. Saya memesan paket dua ayam satu nasi dan rootbeer. Kali ini tidak hanya tak habis dan mual, bahkan saya sampai tinggalkan meja untuk pergi ke kamar mandi agar bisa memuntahkan apa yang baru dimasukkan ke mulut saya.

Saya amat tidak suka ini.

Berusaha untuk menghibur diri di mall pun hasilnya nihil. Saya coba untuk mengelilingi mall untuk window shopping ke H&M dan Ace. Perlahan ingatan lama datang membuat saya bernostalgia akan waktu di mana saya dan mantan (dang, it hurts just to write that word down) saya mengelilingi H&M dan Ace di Hartono Mall Jogja. Tiap langkah yang saya ambil rasanya seperti napak tilas. Beberapa kali saya menengok ke belakang sekadar reflek mencari sosok dia.

Nyeri di ulu hati.

Saya rasa saya akan cukup lama merasakan sensasi ini. Karena saya rasa saya adalah pihak yang paling hancur. Saya selalu menganggap dalam putusnya suatu hubungan, kerusakan yang dialami akan lebih parah untuk pihak yang diputuskan. Itu karena pihak yang diputuskan adalah pihak yang tidak siap. Baru saja tahu kalau hubungan berakhir ketika saat putus tiba. Sedangkan pihak yang memutuskan sudah siap terlebih dahulu akan putus sebelum pengumuman besar terjadi. Dia sudah tahu akan putus dan menyiapkan diri. Sedangkan saya adalah pihak yang syok kalau ternyata hubungan kami harus berakhir.

Tidak ada putus yang tiba-tiba.

Ketika penghujung break kami di tanggal 3 itu tiba, saya sudah siap menyambutnya kembali dan berusaha memperbaiki hubungan ini. Tapi ternyata dia sudah menyerah, bahkan sebelum break kami selesai dia sudah mengibarkan bendera putih untuk hubungan ini.

Dulu ketika berdiskusi tentang peraturan break kami, dia menjelaskan bahwa kami sama-sama boleh menjajal orang lain. Saya pribadi agak berat rasanya menyetujui itu, karena menurut saya fase break adalah fase di mana saya menjauh darinya dan fokus berdiskusi kepada diri sendiri untuk melihat apakah saya masih betah di hubungan ini. Itu pun hal yang saya lakukan. Tidak berusaha untuk mencari orang lain, tidak "haus" di media sosial, tidak desperate mencari siapa pun yang bisa saya dapatkan yang penting dapat. Tapi untuk menghormati keputusannya saya iyakan saja, toh dia juga curious terhadap perempuan, dan penasarannya saya dukung, makanya saya amini. Namun saya juga bilang ketika dia menjajal pria lain, saya tidak lagi bisa bersamanya. Dia mendengar jelas pernyataan saya. Dia tahu pasti apa yang saya maksud. Tapi ternyata dia tetap melakukannya dengan pria lain. Hati saya serasa dihujam tombak saat pertama mendengarnya. Saya tidak tahu apa kesimpulan yang lebih sahih selain bahwa dia memang sudah menyerah.

Yang lebih menyakitkan, memuakkan, membuat saya mual, dan merobek hati ini, dia melakukannya dengan orang yang dari awal adalah faktor perkelahian kami sebelum break. Orang yang sama dengan orang yang dia bilang tidak usah dikhawatirkan karena orang itu melihat dia sebagai teman pria. Khawatir saya dari awal jadi kenyataan. Insekuritas saya memang beralasan.

Dia tahu bahwa saya tidak bisa menerimanya kembali ketika dia bersama pria lain, tapi dia melakukannya bahkan hanya dalam waktu seminggu setelah kami break. Dengan orang yang dari awal adalah penyebab keraguan saya. Tidak ada dia berpikir "Dia kan yang dikhawatirkan Omar kemarin. Aku nggak bisa sama dia." Malah jadinya perbuatannya terkesan dipaksakan dengan dalih "having fun". Yang penting dapat saja pokoknya. Saya merasa diludahi.

Saya masih mau berusaha menjalin hubungan kemarin, tapi ketika tahu apa yang terjadi, saya yakin kalau tidak bisa lagi. Secara tidak langsung dialah yang memutuskan saya yang masih ingin berjuang. Dia telah menyerah atas saya dan hubungan ini.

Saya tahu kalau saya sangat-sangat kecewa. Saya tahu kalau saya sangat marah. Saya tahu kalau saya kebingungan. Saya sakit...

Tapi... semoga di hari ketiga puluh saya sudah pulih dan terlepas dari amarah.

Ya... Semoga.

Tuesday, April 6, 2021

Hari Pertama

Saya pernah membaca kalau menulis rutin tentang rasa dapat menjadi sebuah terapi yang bisa meringankan sakit yang tidak kasat mata. Kebetulan sekali saya ingin mencobanya karena sekarang ini saya sudah masuk hari keempat merasakan sakit yang luar biasa. Menulis sendiri memang salah satu bentuk terapi untuk saya dari lama. Saya suka menulis, hanya saja suka lupa kalau saya suka. Haha.

Tujuan dari menulis ini secara rutin tiap hari selama sebulan selain untuk terapi adalah juga untuk membandingkan saya yang sekarang dengan kamu nanti--Omar di 30 hari ke depan. Bagaimana perasaan saya di hari ketiga puluh dengan saya yang sekarang di hari pertama. Semoga ketika kamu membaca ulang ini semua dengan perasaan yang lebih baik ya, Mar.

Jadi hari ini hari adalah hari keempat setelah saya putus dengan pasangan saya. Itu adalah penyebab drama batin ini semua. Di hari keempat ini saya makin merasakan tubuh saya mengalami sakit secara fisik juga selain sakit batin. Patah hati memang bukan main efeknya. Saya sama sekali tidak nafsu makan. Dipaksa makan pun sangat sulit. Siang ini saya membeli gado-gado pedas untuk makan siang, tapi rasanya menjadi hambar. Tidak habis saya menyantapnya.

Selain itu saya juga suka mual tanpa sebab. Ingin muntah saja rasanya, tapi tidak bisa. Kemarin sempat memasak Indomie goreng malam-malam, tapi belum habis seperempat saya sudah mual. Tidak bisa lah saya teruskan memakannya. Padahal itu adalah makanan pertama yang melewati mulut saya seharian.

Yang saya rasakan hari ini memang tidak separah hari-hari sebelumnya. Atau memang belum saja mungkin. Tetap dada selalu merasa sakit, terutama setiap bangun tidur. Bicara soal tidur, tidur saya pun menjadi tidak enak. Sudah tidur tidak nyenyak, bangunnya pun diserbu rasa perih di dada dan kalimat-kalimat negatif yang tentunya tidak membantu.

"Kenapa bisa kayak gini sih?"

"Kenapa dia begitu cepat menyerah terhadap hubungan ini?"

"Kenapa dia begitu naif? Andai saja saat itu begini."

"Harusnya dia mengeluarkan usaha yang sama."

"Kenapa saya begini?"

Dan banyak pikiran negatif lainnya yang berkontribusi atas perihnya dada saya di pagi hari sampai malam menuju tidur.

Belum lagi ditambah setan lain di kepala saya yang menolak pasrah dan terus menyalahkan dia. Setan yang terus berbisik kalau kandasnya hubungan ini adalah murni karena dia yang kurang berusaha dan memang bosan saja terhadap saya.

Racun-racun tersebut sama sekali tidak membantu saya untuk dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa rasa sakit.

Hari ini pun. Saya masih sangat kesakitan.

Bangsat memang.

Hari Ketiga Puluh

Tiga puluh hari sudaaaaaaah! Tiga puluh hari sudah saya menulis rutin di sini. Tulisan tentang rasa walaupun sepertinya curhat sendu bukanla...