Wednesday, May 5, 2021

Hari Ketiga Puluh

Tiga puluh hari sudaaaaaaah!

Tiga puluh hari sudah saya menulis rutin di sini. Tulisan tentang rasa walaupun sepertinya curhat sendu bukanlah tema dari setiap pos yang saya tulis selama tiga puluh hari berturut-turut ini...eh, nggak tahu ding, saya lupa apa saja yang sudah saya tulis. Besok-besok akan saya baca lagi dan coba merangkumnya di sini.

Lalu bagaimana perasaan saya sekarang? Sudah tidak sedih sih pasti, jadi saya menyimpulkan terapi menulis ini ampuh. Namun untuk menjadi seperti sekarang, menulis rutin bukanlah satu-satunya obat. Banyak hal kecil lainnya yang membuat proses move on ini terbantu.

Kini gue bisa bilang kalau gue sudah pulih.

Gue tidak tahu bagaimana kerusakan kemarin yang dialami oleh mantan saya, namun jikalau dia juga hancur lebur ketika berpisah dengan saya, saya sangat berharap dia sekarang sudah pulih dan mengejar impiannya. Saya masih belum kontak-kontakan berkomunikasi sama dia--baik komunikasi pasif atau aktif--karena masih belum mau saja dan memang tidak ada keperluannya.

Kini sepertinya hanya tersisa residu-residu patah hati kemarin saja. Saya sih yakin akan hilang dengan sendirinya ketika saya teruskan merasa bahagia seperti sekarang.

Saya bersyukur saya cukup tahu diri saya sehingga mengerti mana yang baik dilakukan dan tidak baik dilakukan dalam proses move on.

Saya pun bersyukur pernah bersama Karola selama enam setengah tahun kemarin. Walaupun beberapa waktu sebelum berakhir itu tidak mengenakkan, namun sisanya terdiri dari memori-memori yang indah untuk saya.

Saya pun bersyukur mempunyai beberapa orang yang dapat mendengarkan dengan baik. Ya walaupun saya tidak pernah bercerita selain kulit luarnya saja, karena saya yakin akan ada bias di mata mereka kalau saya cerita dengan eksplisit. Saya tidak butuh diangkat-angkat.

Terakhir, saya bersyukur kepada Tuhan yang maha esa, yang selalu membukakan jalan untuk saya.

LMAO... GELI BANGET ANJIR KALIMAT TERAKHIR. BUAHAHAHAHAHAHAH! Lagian Tuhan yang mana pula yang gue imani? Huahahahah.

Wis, bubar! Selesai sudah... Tapi apa iya? Huehuehue.

Tuesday, May 4, 2021

Hari Kedua Puluh Sembilan

Hari ini saya lelah sekali.

Well, seminggu belakangan... Euh... Sebulan belakangan ini memang melelahkan.

Ditambah lagi kebodohan saya berkomitmen untuk menulis tiap hari di dua blog ketika kerjaan menulis saya masih ada.

Ya, tidak terasa sudah hari kedua puluh sembilan saya menulis aktif di blog ini dan besok adalah hari terakhir. Hmmm... 

Sedih juga menyelesaikannya.

Tapi di saat bersamaan, seiringnya tercapai tujuan menulis 30 hari berturut-turut, tujuan saya pulih dari kesedihan pun tercapai.

So yeah... Yay for me, I guess.


Monday, May 3, 2021

Hari Kedua Puluh Delapan

Tepat sebulan lalu saya berpisah dengan pasangan saya yang kemarin. Saya diputusi, membuat saya sempat cukup merasa berantakan untuk beberapa lama. Sakit batin yang saya rasakan menjalar menjadi sakit fisik. Pokoknya tidak enak. 

Syukurlah badai besarnya yang saya rasakan hanya di minggu pertama. Hari-hari selanjutnya sudah tidak separah ketika awal-awal patah hati. Masih kadang-kadang datang, namun tidak sehebat ketika lukanya masih basah.

Hari ini saya jauh lebih baik dibandingkan saya yang sebulan lalu. Untungnya saja saya cukup mengerti diri sendiri sehingga tahu apa yang mesti saya lakukan dan yang tidak boleh saya lakukan, untuk membuat diri saya menjadi lebih baik dan tidak malah mengantarkan saya ke hal-hal yang destruktif.

Saya rasa sekarang ini pun saya sudah bisa kembali merasakan ketertarikan dengan lawan jenis lain. Saya sudah bisa melihat wanita lain menarik di mata saya. Namun masih ada hal yang menghalangi saya untuk bergerak. Menghadang saya untuk mencari pasangan--entah untuk berkomitmen lagi atau hanya untuk bersenang-senang. Saya rasa saya belum begitu siap. Atau belum begitu perlu. Saya tidak tahu.

Tapi entah, mungkin hanya residu patah hati yang menyebabkan saya merasa seperti itu.

Namun saya yakin, waktu akan menyembuhkan.

Perlahan-lahan.

Bisa cepat atau lama, entah kapan.

Aaaah... saya rindu sosok Mars.

Sunday, May 2, 2021

Hari Kedua Puluh Tujuh

Di pos saya sebelumnya saya mengatakan bahwa saya tidak akan membuat tantangan ke diri saya sendiri untuk menulis selama 30 setiap hari di blog sebelah, seperti layaknya di blog ini. Karena akan sangat sibuk sekali nantinya. Sesaat setelah saya memencet "publish" untuk pos itu, saya malah mendeklarasikan bahwa saya akan menulis selama 30 hari ke depan di sana.

Konsisten sekali saya dungunya.

Menulis selama 30 hari setiap hari di sini tidaklah sulit, karena saya menganggap blog ini seperti diary. Saya benar-benar menulis apa yang saya rasa, saya pikir, saya ingin, tanpa adanya proses filter. Karena saya tahu tak ada yang akan membaca. Saya menulis untuk elo, Mar.

Namun untuk blog sebelah sih lain cerita. Tautan ke sana sudah tersebar di mana-mana, bahkan saya sudah lupa ada di mana saja. Pencarian Google untuk banyak kata kunci bisa saja menuju ke sana karena traffic yang dimiliki blog itu cukup tinggi. Ya blog tua juga, jadi saya tidak heran.

Itu semua membuat saya lebih menyaring apa saja yang saya tulis. Ada rasa malu kalau ada yang membaca kalau tulisannya asal. Hahahahaha.

Hari ini adalah hari kedua seharusnya saya menulis di sana. Namun apa daya barusan saja saya pulang ke rumah dan baru sempat menjamah blog saya. Jadinya saya pos ulang saja tulisan saya di sini dengan sedikit perubahan hahahahaha.

Saturday, May 1, 2021

Hari Kedua Puluh Enam

Wah sudah hari kedua puluh enam saja ya ternyata. Sebentar lagi target menulis saya akan selesai. Sayang sekali, padahal saya sudah cukup nyaman aktif di sini. Menulis tanpa beban karena menulis untuk saya, bukan untuk orang yang akan membaca kelak, dan sepertinya memang tak ada juga yang membaca karena saya tidak menyebarkan tautan blog ini.

Tapi sesuai tujuan awal, menulis di sini hanyalah sarana saya untuk terapi agar pulih dari patah hati. Sejauh ini cukup berhasil ternyata. Tak terasa juga ini akan menyentuh hari terakhir dalam beberapa hari. Time flies.

Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah setelah tujuan diselesaikan, blog ini akan dihapus?

Sempat saya berpikir lama akan hal itu, namun sepertinya akan saya biarkan saja.

Sempat saya berpikir sebelumnya untuk melakukan kegiatan menjurnal selama 30 hari ini di bulan Mei. Karena pada akhir Mei saya akan berkepala tiga. Jadi dimulai dari tanggal 1 sampai 30 di mana saya akan menjadi 30.

30 untuk 30.

Akan sangat keren sekali! Lantas apa yang menghalanginya? Ya sakit hati saya dimulai tanggal 3 April. Untuk ke tanggal 1 Mei itu lamaaaa sekali hahaha. Saya tidak bisa menunggu. Kemungkinannya akan ada dua kalau saya mulai perjalanan tulisan ini pada awal Mei: 1. Ketika mulai menulis saya sudah keburu tidak merasakan galau, 2. Ketika mulai menulis saya sudah keburu tidak bisa berfungsi dengan baik karena galaunya tidak diatasi. Hahaha.

Lalu kenapa tidak mulai saja 30 untuk 30 tadi di blog satunya? Yaaa, saya rasa saya tidak bisa menulis sebebas ini di rumah satunya, karena merasa ada beban tadi.

Lagipula akan sangat merepotkan kalau saya menulis di dua blog ini setiap hari dan ditambah proyek menulis naskah kemarin. Takutnya akan tidak maksimal.

Friday, April 30, 2021

Hari Kedua Puluh Lima

Hari ini saya lelah sekali. Saya kurang tidur karena malam sebelumnya tidak bisa tidur, dibangunkan sahur pula. Paginya pun bangun cepat karena ada urusan.

Sepanjang hari mata saya sangat berat, sehingga ketika sore sampai rumah setelah beraktivitas dan berbuka bersama keluarga, saya memutuskan untuk tidur. 

Saya terbangun beberapa kali selama tidur saya yang cukup lama itu, pertama jam 9 malam. Namun karena masih berat matanya, saya memutuskan tidur kembali dan terbangun lagi jam 11 dan barusan. Penyebab saya bangun berkali-kali itu karena saya bermimpi.

Memimpikan kami...

Sialan!

Saya memimpikan diri saya berbicara kepadanya di rumahnya. Di ruang makan di mana saya sering menunggunya ketika dia sedang bersiap di kamarnya. Duduk di kursi kayu menghadap tembok berwarna merah yang terkena cahaya lampu berwarna kuning, yang membuat merahnya terlihat begitu hangat. Dia duduk di depan saya.

Kami bicara. Tak tahu apa yang kami bicarakan, tapi kami sedang bercengkrama dan tertawa. Seperti ketika kami masih bersama. Saya ingat tawanya. Begitu terasa nyata ketika tadi saya bermimpi tentang hal itu

Mimpi setelahnya pun serupa, hanya saja berbeda latar, namun masih di rumahnya, seperti di kamarnya dan di luar. Adegannya pun sama: saya bersama dia bercengkrama dan tertawa.

Selalu di rumahnya... Berbicara dan bercanda... bersama dia... Yang pernah menjadi rumah saya.

Ini adalah kali pertama saya memimpikan mimpi yang bernuansa rindu tentang dia pasca putus. Efek yang diakibatkan adalah tentu perasaan kangen. Ketika terbangun, saya langsung sangat-sangat-sangat gatal untuk melihat halaman media sosialnya, tapi tak saya lakukan karena saya tahu hal itu tidaklah sehat.

Saya belum siap menyambut perasaan sedih kemarin.

Lebih tepatnya saya tidak mau.

Saya pun memutuskan untuk tidak langsung tidur lagi sekarang. Takutnya terjadi mimpi yang sama dan paginya saya terbangun dengan perasaan nyeri di ulu hati dibarengi perasaan sayang yang lampau. Well... I guess I'm gonna binge watch Family Guy 'till morning.

Thursday, April 29, 2021

Hari Kedua Puluh Empat

Siang tadi ketika saya lagi menonton The Falcon and The Winter Soldier di TV kantor, tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Ternyata ada notifikasi WhatsApp, teman saya bernama Opik mengirim teks yang isinya menanyakan saya apakah saya masih menulis. Ketika saya bilang iya, dia langsung menelepon.

Inti dari pembicaraan lewat aplikasi WhatsApp itu adalah saya kembali diajak dalam proyeknya untuk menulis naskah suatu serial dalam jaringan yang digawangi oleh salah satu penyedia jasa Internet di Indonesia.

Melihat brief yang tidak terlalu rumit, tentu saya terima. Billing yang ditawarkan untuk menulis delapan episode mendekati UMR Jakarta. Bukan proyek menulis dengan bayaran paling besar yang pernah saya terima, namun karena permintaannya tidak ribet dan bisa membantu saya dalam mendukung hobi baru saya, saya senang. Parfum tidak murah soalnya.

Saya bertanya kepadanya, kenapa dalam proyek ini memilih saya? Jawabannya masih sama seperti yang sudah-sudah: dia menganggap tulisan saya bagus.

Karya saya diapresiasi. Saya senang.

Beberapa waktu lalu juga saya mengambil foto lewat ponsel di suatu gereja daerah Depok ketika sedang ada kegiatan syuting di sana. Setelah mengambil foto, saya sunting hasilnya dengan preset buatan saya di aplikasi Lightroom, kemudian saya unggah di story IG. Kemudian... BOOM! Banyak sekali balasan yang masuk memuji hasil jepretan saya, bahkan beberapa meminta file HD-nya untuk dijadikan wallpaper handphone mereka.

Saya diapresiasi dan saya senang.

Memang mendapatkan apresiasi atas karya atau hal yang kita lakukan itu perasaan yang membahagiakan.

Hari Ketiga Puluh

Tiga puluh hari sudaaaaaaah! Tiga puluh hari sudah saya menulis rutin di sini. Tulisan tentang rasa walaupun sepertinya curhat sendu bukanla...