Thursday, April 8, 2021

Hari Ketiga

Saya cukup senang ketika hari ini ternyata tidak sesendu hari-hari sebelumnya. Makan saya sudah agak saya bikin benar walaupun belum begitu menikmati apa yang saya santap dan mual masih saja terasa, tapi sudah ada kemajuan lah. Saya mulai sadar akan raungan badan saya yang kesakitan. Saya mendengarkan tubuh saya.

Pagi tadi tentu masih seperti sebelumnya, tapi kabut-kabut murung hanya sementara. Datang dan pergi, tapi  singgahnya tidak dalam waktu yang lama.

Sebenarnya saya berencana menulis di blog ini setiap sedang berada di puncak emosional saya di satu hari, tapi hari ini saya tidak merasakan perasaan yang kuat terkait patah hati seperti hari-hari sebelumnya. Di hari awal-awal berpisah, saya sangat emosional dan merasakan lonjakan emosi yang bisa datang berkali-kali dalam sehari. Memancing air mata untuk turun ke pipi di waktu-waktu yang tidak terduga. Namun hari ini tidak.

Wow, tunggu... setelah menulis beberapa kalimat di atas, saya juga baru sadar kalau saya sekarang ini sangat cengeng. Padahal saya tahu kalau saya tidak demikian, bahkan saya termasuk orang yang sulit mengekspresikan kesedihan dengan air mata. Namun baru detik ini ketika menulis itu saya sadari kalau saya sekarang adalah kebalikannya.

Wow, I put my pride away just to acknowledge that...

Wow, patah hati seserius itu ternyata. Menakutkan sekali ya efeknya.

Mungkinkah itu juga berarti saya makin mengenali diri sendiri? Hmmm...

Entahlah, yang jelas saya hari ini tidak merasa sesendu biasanya. Saya tidak bergerak di tempat. Good job, me!

Semoga berlanjut. 

No comments:

Post a Comment

Hari Ketiga Puluh

Tiga puluh hari sudaaaaaaah! Tiga puluh hari sudah saya menulis rutin di sini. Tulisan tentang rasa walaupun sepertinya curhat sendu bukanla...