Tuesday, April 6, 2021

Hari Pertama

Saya pernah membaca kalau menulis rutin tentang rasa dapat menjadi sebuah terapi yang bisa meringankan sakit yang tidak kasat mata. Kebetulan sekali saya ingin mencobanya karena sekarang ini saya sudah masuk hari keempat merasakan sakit yang luar biasa. Menulis sendiri memang salah satu bentuk terapi untuk saya dari lama. Saya suka menulis, hanya saja suka lupa kalau saya suka. Haha.

Tujuan dari menulis ini secara rutin tiap hari selama sebulan selain untuk terapi adalah juga untuk membandingkan saya yang sekarang dengan kamu nanti--Omar di 30 hari ke depan. Bagaimana perasaan saya di hari ketiga puluh dengan saya yang sekarang di hari pertama. Semoga ketika kamu membaca ulang ini semua dengan perasaan yang lebih baik ya, Mar.

Jadi hari ini hari adalah hari keempat setelah saya putus dengan pasangan saya. Itu adalah penyebab drama batin ini semua. Di hari keempat ini saya makin merasakan tubuh saya mengalami sakit secara fisik juga selain sakit batin. Patah hati memang bukan main efeknya. Saya sama sekali tidak nafsu makan. Dipaksa makan pun sangat sulit. Siang ini saya membeli gado-gado pedas untuk makan siang, tapi rasanya menjadi hambar. Tidak habis saya menyantapnya.

Selain itu saya juga suka mual tanpa sebab. Ingin muntah saja rasanya, tapi tidak bisa. Kemarin sempat memasak Indomie goreng malam-malam, tapi belum habis seperempat saya sudah mual. Tidak bisa lah saya teruskan memakannya. Padahal itu adalah makanan pertama yang melewati mulut saya seharian.

Yang saya rasakan hari ini memang tidak separah hari-hari sebelumnya. Atau memang belum saja mungkin. Tetap dada selalu merasa sakit, terutama setiap bangun tidur. Bicara soal tidur, tidur saya pun menjadi tidak enak. Sudah tidur tidak nyenyak, bangunnya pun diserbu rasa perih di dada dan kalimat-kalimat negatif yang tentunya tidak membantu.

"Kenapa bisa kayak gini sih?"

"Kenapa dia begitu cepat menyerah terhadap hubungan ini?"

"Kenapa dia begitu naif? Andai saja saat itu begini."

"Harusnya dia mengeluarkan usaha yang sama."

"Kenapa saya begini?"

Dan banyak pikiran negatif lainnya yang berkontribusi atas perihnya dada saya di pagi hari sampai malam menuju tidur.

Belum lagi ditambah setan lain di kepala saya yang menolak pasrah dan terus menyalahkan dia. Setan yang terus berbisik kalau kandasnya hubungan ini adalah murni karena dia yang kurang berusaha dan memang bosan saja terhadap saya.

Racun-racun tersebut sama sekali tidak membantu saya untuk dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa rasa sakit.

Hari ini pun. Saya masih sangat kesakitan.

Bangsat memang.

No comments:

Post a Comment

Hari Ketiga Puluh

Tiga puluh hari sudaaaaaaah! Tiga puluh hari sudah saya menulis rutin di sini. Tulisan tentang rasa walaupun sepertinya curhat sendu bukanla...