Tiga puluh hari sudah saya menulis rutin di sini. Tulisan tentang rasa walaupun sepertinya curhat sendu bukanlah tema dari setiap pos yang saya tulis selama tiga puluh hari berturut-turut ini...eh, nggak tahu ding, saya lupa apa saja yang sudah saya tulis. Besok-besok akan saya baca lagi dan coba merangkumnya di sini.
Lalu bagaimana perasaan saya sekarang? Sudah tidak sedih sih pasti, jadi saya menyimpulkan terapi menulis ini ampuh. Namun untuk menjadi seperti sekarang, menulis rutin bukanlah satu-satunya obat. Banyak hal kecil lainnya yang membuat proses move on ini terbantu.
Kini gue bisa bilang kalau gue sudah pulih.
Gue tidak tahu bagaimana kerusakan kemarin yang dialami oleh mantan saya, namun jikalau dia juga hancur lebur ketika berpisah dengan saya, saya sangat berharap dia sekarang sudah pulih dan mengejar impiannya. Saya masih belum kontak-kontakan berkomunikasi sama dia--baik komunikasi pasif atau aktif--karena masih belum mau saja dan memang tidak ada keperluannya.
Kini sepertinya hanya tersisa residu-residu patah hati kemarin saja. Saya sih yakin akan hilang dengan sendirinya ketika saya teruskan merasa bahagia seperti sekarang.
Saya bersyukur saya cukup tahu diri saya sehingga mengerti mana yang baik dilakukan dan tidak baik dilakukan dalam proses move on.
Saya pun bersyukur pernah bersama Karola selama enam setengah tahun kemarin. Walaupun beberapa waktu sebelum berakhir itu tidak mengenakkan, namun sisanya terdiri dari memori-memori yang indah untuk saya.
Saya pun bersyukur mempunyai beberapa orang yang dapat mendengarkan dengan baik. Ya walaupun saya tidak pernah bercerita selain kulit luarnya saja, karena saya yakin akan ada bias di mata mereka kalau saya cerita dengan eksplisit. Saya tidak butuh diangkat-angkat.
Terakhir, saya bersyukur kepada Tuhan yang maha esa, yang selalu membukakan jalan untuk saya.
LMAO... GELI BANGET ANJIR KALIMAT TERAKHIR. BUAHAHAHAHAHAHAH! Lagian Tuhan yang mana pula yang gue imani? Huahahahah.
Wis, bubar! Selesai sudah... Tapi apa iya? Huehuehue.