Friday, April 23, 2021

Hari Kedelapan Belas

Move on bagi saya bukanlah melupakan sang mantan, melainkan ketika saya tidak diam di tempat. Bergerak maju ke depan. Menapaki kaki di tempat yang berbeda dari tempat sebelumnya.

Intinya adalah tidak di situ-situ saja.

Supaya tidak di tempat yang sama terus-menerus, hal yang saya lakukan adalah menambah wawasan. Belajar hal baru bahkan untuk hal paling kecil sekalipun.

Belanja minuman baru yang belum pernah saya minum sebelumnya di Indomaret. Membaca sesuatu yang tadinya tidak pernah saya sentuh. Pergi ke tempat yang dulu adalah asing buat saya.

Menambah wawasan.

Hal itu sedikit membantu proses move on saya secara tidak sadar. Hingga belakangan ini saya pikir saya sudah merasa biasa saja karena saya pikir saya sudah move on. Tak ada yang perlu dikhawatirkan perihal perasaan lampau yang diakhiri kekecewaan. Batin aman.

Saya jumawa.

Karena kepongahan tersebut, saya pun kemarin menjadi bandel. Saya bebal mencoba menguntit dia, padahal otak sudah sangat berteriak "WOI JANGAN WOI! GALI KUBUR ITU NAMANYA!". Tepat seminggu setelah saya memutuskan untuk tidak mengunjungi halamannya, saya malah mengunjungi halamannya.

Tekad saya ternyata tidak sekuat itu untuk tidak memedulikannya.

Ya bisa ditebak, setelah berhubungan pasif dengannya, perasaan sendu muncul kembali. Jantung berdegup kencang tiba-tiba setelah membaca beberapa cuitannya. Ada perasaan negatif kembali datang ke benak saya. Saya tidak bisa bilang apa itu, karena saya sendiri tidak tahu. Pokoknya saya kembali merasa murung, bahkan terbawa mimpi.

Tapi... Saya masih bisa bilang saya tetap move on, karena saya memang tidak di situ-situ saja. Saya bergerak maju ke depan. Rasa negatif ini tidak begitu kuat seperti sebelumnya, itu termasuk maju ke depan.

Move on bagi saya ya seperti itu. Bukanlah melupakan dia. Karena otak manusia gunanya untuk mengingat, bukan melupakan. Tidak bisa saya melupakan secara disengaja kenangan kami ketika bahagia, senyumnya, dan hangat pelukannya ketika saya sedang kedinginan saat menuruni bukit Gunung Kidul di malam hari.

Saya sadar akan hal itu. Tapi saya sangat berharap kalau saat ini saya bisa sebaliknya.

Memang stalking itu racun. Huh.

No comments:

Post a Comment

Hari Ketiga Puluh

Tiga puluh hari sudaaaaaaah! Tiga puluh hari sudah saya menulis rutin di sini. Tulisan tentang rasa walaupun sepertinya curhat sendu bukanla...