Wednesday, April 7, 2021

Hari Kedua

Sepertinya pagi saya akan selalu diawali dengan perasaan negatif untuk waktu yang cukup lama. Mimpi buruk sih nggak selalu. Monolog dengan diri sendiri tiap bangun itu yang sangat mengganggu mental saya. Belum lagi ditambah cuplikan adegan keparat yang kadang muncul di kepala.

Di hari kelima ini saya makin merasakan efek buruk patah hati yang langsung menyerang fisik saya. Rasanya semakin lemas dan gampang pusing. Makan tentu masih tidak enak. Kemarin saya coba untuk pergi ke McDonald's setelah pulang bekerja untuk membeli satu beefburger beserta satu cola float. Demi Odin rasanya menjadi tidak enak! Baru kali ini saya yang tidak demam tidak habis memakan dua menu itu. Biasanya kalau sedang sakit demam saya memang sulit menghabiskan makanan mau seenak apa pun itu, termasuk dua menu tadi. Kali ini saya tidak demam dan saya tidak habis. Mual pula rasanya.

Efek sakit yang terletak di mental sepertinya berbanding lurus dengan sakit secara fisik.

Tadi sore lebih parah. Masih mencoba untuk makan makanan enak, usai pulang bekerja saya pergi ke mall untuk beli makanan di gerai A&W. Saya memesan paket dua ayam satu nasi dan rootbeer. Kali ini tidak hanya tak habis dan mual, bahkan saya sampai tinggalkan meja untuk pergi ke kamar mandi agar bisa memuntahkan apa yang baru dimasukkan ke mulut saya.

Saya amat tidak suka ini.

Berusaha untuk menghibur diri di mall pun hasilnya nihil. Saya coba untuk mengelilingi mall untuk window shopping ke H&M dan Ace. Perlahan ingatan lama datang membuat saya bernostalgia akan waktu di mana saya dan mantan (dang, it hurts just to write that word down) saya mengelilingi H&M dan Ace di Hartono Mall Jogja. Tiap langkah yang saya ambil rasanya seperti napak tilas. Beberapa kali saya menengok ke belakang sekadar reflek mencari sosok dia.

Nyeri di ulu hati.

Saya rasa saya akan cukup lama merasakan sensasi ini. Karena saya rasa saya adalah pihak yang paling hancur. Saya selalu menganggap dalam putusnya suatu hubungan, kerusakan yang dialami akan lebih parah untuk pihak yang diputuskan. Itu karena pihak yang diputuskan adalah pihak yang tidak siap. Baru saja tahu kalau hubungan berakhir ketika saat putus tiba. Sedangkan pihak yang memutuskan sudah siap terlebih dahulu akan putus sebelum pengumuman besar terjadi. Dia sudah tahu akan putus dan menyiapkan diri. Sedangkan saya adalah pihak yang syok kalau ternyata hubungan kami harus berakhir.

Tidak ada putus yang tiba-tiba.

Ketika penghujung break kami di tanggal 3 itu tiba, saya sudah siap menyambutnya kembali dan berusaha memperbaiki hubungan ini. Tapi ternyata dia sudah menyerah, bahkan sebelum break kami selesai dia sudah mengibarkan bendera putih untuk hubungan ini.

Dulu ketika berdiskusi tentang peraturan break kami, dia menjelaskan bahwa kami sama-sama boleh menjajal orang lain. Saya pribadi agak berat rasanya menyetujui itu, karena menurut saya fase break adalah fase di mana saya menjauh darinya dan fokus berdiskusi kepada diri sendiri untuk melihat apakah saya masih betah di hubungan ini. Itu pun hal yang saya lakukan. Tidak berusaha untuk mencari orang lain, tidak "haus" di media sosial, tidak desperate mencari siapa pun yang bisa saya dapatkan yang penting dapat. Tapi untuk menghormati keputusannya saya iyakan saja, toh dia juga curious terhadap perempuan, dan penasarannya saya dukung, makanya saya amini. Namun saya juga bilang ketika dia menjajal pria lain, saya tidak lagi bisa bersamanya. Dia mendengar jelas pernyataan saya. Dia tahu pasti apa yang saya maksud. Tapi ternyata dia tetap melakukannya dengan pria lain. Hati saya serasa dihujam tombak saat pertama mendengarnya. Saya tidak tahu apa kesimpulan yang lebih sahih selain bahwa dia memang sudah menyerah.

Yang lebih menyakitkan, memuakkan, membuat saya mual, dan merobek hati ini, dia melakukannya dengan orang yang dari awal adalah faktor perkelahian kami sebelum break. Orang yang sama dengan orang yang dia bilang tidak usah dikhawatirkan karena orang itu melihat dia sebagai teman pria. Khawatir saya dari awal jadi kenyataan. Insekuritas saya memang beralasan.

Dia tahu bahwa saya tidak bisa menerimanya kembali ketika dia bersama pria lain, tapi dia melakukannya bahkan hanya dalam waktu seminggu setelah kami break. Dengan orang yang dari awal adalah penyebab keraguan saya. Tidak ada dia berpikir "Dia kan yang dikhawatirkan Omar kemarin. Aku nggak bisa sama dia." Malah jadinya perbuatannya terkesan dipaksakan dengan dalih "having fun". Yang penting dapat saja pokoknya. Saya merasa diludahi.

Saya masih mau berusaha menjalin hubungan kemarin, tapi ketika tahu apa yang terjadi, saya yakin kalau tidak bisa lagi. Secara tidak langsung dialah yang memutuskan saya yang masih ingin berjuang. Dia telah menyerah atas saya dan hubungan ini.

Saya tahu kalau saya sangat-sangat kecewa. Saya tahu kalau saya sangat marah. Saya tahu kalau saya kebingungan. Saya sakit...

Tapi... semoga di hari ketiga puluh saya sudah pulih dan terlepas dari amarah.

Ya... Semoga.

No comments:

Post a Comment

Hari Ketiga Puluh

Tiga puluh hari sudaaaaaaah! Tiga puluh hari sudah saya menulis rutin di sini. Tulisan tentang rasa walaupun sepertinya curhat sendu bukanla...