Awan-awan mendung kemurungan masih terus berada di atas kepala saya sambil sesekali mengeluarkan kilatan petir, tapi tidak sampai menyakiti hati saya.
Perlahan saya sudah bisa berpikir agak jernih, walau terus saja ada bayangan hitam di belakang saya yang membisikkan racun-racun mematikan. Namun saya belajar untuk tidak mendengarkannya.
Pernah belajar tentang romansa ternyata memang agak membantu ketika saya sudah bisa berpikir lagi. Pelajaran-pelajaran yang saya terima dulu sedikit demi sedikit jadi teringat dan menuntun saya untuk berjalan maju ke depan.
Ketika saya berpisah via telepon dengannya lalu, beberapa kali saya mengucapkan "yang sudah ya sudah." Karena ya mau bagaimana lagi? Hati saya sudah tercabik. Sakitnya sudah terasa. Tentunya saya bilang begitu karena saya tahu harus pasrah, namun pada saat itu saya sendiri tidak bisa mengamini ucapan saya tersebut.
Hari ini saya bisa sedikit pasrah. Tidak sepenuhnya, tapi walau sedikit pun itu sudah menunjukkan ada kemajuan. Yang sudah terjadi tidak bisa diulang, kerusakannya tidak bisa dicegah supaya perpisahan tak terjadi.
Rasa marah masih ada, tapi tidak sebesar rasa kecewa. Saya masih menyayangkan semua kejadian ini.
Tapi ya mau gimana lagi?
Yang sudah ya sudah...
No comments:
Post a Comment