Friday, April 30, 2021

Hari Kedua Puluh Lima

Hari ini saya lelah sekali. Saya kurang tidur karena malam sebelumnya tidak bisa tidur, dibangunkan sahur pula. Paginya pun bangun cepat karena ada urusan.

Sepanjang hari mata saya sangat berat, sehingga ketika sore sampai rumah setelah beraktivitas dan berbuka bersama keluarga, saya memutuskan untuk tidur. 

Saya terbangun beberapa kali selama tidur saya yang cukup lama itu, pertama jam 9 malam. Namun karena masih berat matanya, saya memutuskan tidur kembali dan terbangun lagi jam 11 dan barusan. Penyebab saya bangun berkali-kali itu karena saya bermimpi.

Memimpikan kami...

Sialan!

Saya memimpikan diri saya berbicara kepadanya di rumahnya. Di ruang makan di mana saya sering menunggunya ketika dia sedang bersiap di kamarnya. Duduk di kursi kayu menghadap tembok berwarna merah yang terkena cahaya lampu berwarna kuning, yang membuat merahnya terlihat begitu hangat. Dia duduk di depan saya.

Kami bicara. Tak tahu apa yang kami bicarakan, tapi kami sedang bercengkrama dan tertawa. Seperti ketika kami masih bersama. Saya ingat tawanya. Begitu terasa nyata ketika tadi saya bermimpi tentang hal itu

Mimpi setelahnya pun serupa, hanya saja berbeda latar, namun masih di rumahnya, seperti di kamarnya dan di luar. Adegannya pun sama: saya bersama dia bercengkrama dan tertawa.

Selalu di rumahnya... Berbicara dan bercanda... bersama dia... Yang pernah menjadi rumah saya.

Ini adalah kali pertama saya memimpikan mimpi yang bernuansa rindu tentang dia pasca putus. Efek yang diakibatkan adalah tentu perasaan kangen. Ketika terbangun, saya langsung sangat-sangat-sangat gatal untuk melihat halaman media sosialnya, tapi tak saya lakukan karena saya tahu hal itu tidaklah sehat.

Saya belum siap menyambut perasaan sedih kemarin.

Lebih tepatnya saya tidak mau.

Saya pun memutuskan untuk tidak langsung tidur lagi sekarang. Takutnya terjadi mimpi yang sama dan paginya saya terbangun dengan perasaan nyeri di ulu hati dibarengi perasaan sayang yang lampau. Well... I guess I'm gonna binge watch Family Guy 'till morning.

Thursday, April 29, 2021

Hari Kedua Puluh Empat

Siang tadi ketika saya lagi menonton The Falcon and The Winter Soldier di TV kantor, tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Ternyata ada notifikasi WhatsApp, teman saya bernama Opik mengirim teks yang isinya menanyakan saya apakah saya masih menulis. Ketika saya bilang iya, dia langsung menelepon.

Inti dari pembicaraan lewat aplikasi WhatsApp itu adalah saya kembali diajak dalam proyeknya untuk menulis naskah suatu serial dalam jaringan yang digawangi oleh salah satu penyedia jasa Internet di Indonesia.

Melihat brief yang tidak terlalu rumit, tentu saya terima. Billing yang ditawarkan untuk menulis delapan episode mendekati UMR Jakarta. Bukan proyek menulis dengan bayaran paling besar yang pernah saya terima, namun karena permintaannya tidak ribet dan bisa membantu saya dalam mendukung hobi baru saya, saya senang. Parfum tidak murah soalnya.

Saya bertanya kepadanya, kenapa dalam proyek ini memilih saya? Jawabannya masih sama seperti yang sudah-sudah: dia menganggap tulisan saya bagus.

Karya saya diapresiasi. Saya senang.

Beberapa waktu lalu juga saya mengambil foto lewat ponsel di suatu gereja daerah Depok ketika sedang ada kegiatan syuting di sana. Setelah mengambil foto, saya sunting hasilnya dengan preset buatan saya di aplikasi Lightroom, kemudian saya unggah di story IG. Kemudian... BOOM! Banyak sekali balasan yang masuk memuji hasil jepretan saya, bahkan beberapa meminta file HD-nya untuk dijadikan wallpaper handphone mereka.

Saya diapresiasi dan saya senang.

Memang mendapatkan apresiasi atas karya atau hal yang kita lakukan itu perasaan yang membahagiakan.

Wednesday, April 28, 2021

Hari Kedua Puluh Tiga

Awal Mei nanti banyak sekali rencana yang ingin saya lakukan. Salah satunya adalah ke tattoo parlour untuk menggambar badan. Sebenarnya ini sudah lama ingin saya lakukan, namun tidak ada waktu melulu. 

Sebelumnya, ini saya jadwalkan akhir bulan April untuk pergi bersama dua orang teman saya, namun sudah semingguan DM saya tidak dibalas oleh akun Instagram tempat tatonya. Kemudian saya sadar untuk konsultasi atau buat janji ya memang seharusnya lewat kontak yang disediakan. Bodoh sekali memang saya. Haha.

Lalu selain itu saya ingin mengecat rambut lagi menjadi putih bersama teman saya yang berbeda. Awalnya dia curhat ingin mengecat rambutnya menjadi putih segaris, kemudian saya kok ya jadi mau juga. Haha.

Beberapa tahun lalu saya sempat mengecat rambut saya menjadi warna abu-abu. Tentunya itu tidak sesuai ekspektasi saya, karena saya ingin mengecatnya menjadi putih. Setelah melalui proses yang lama dan menyakitkan, jadilah rambut saya yang saya rencanakan berwarna putih tapi malah menjadi abu-abu. Lantas apakah saya kecewa? Tentu tidak, karena ternyata lumayan keren juga saat itu.

Kali ini saya ingin mencari tempat yang lebih kredibel. Toh saya juga membawa tumbal dahulu, yaitu teman saya. Ketika dia sudah terlihat hasilnya dan menjadi berwarna putih, saya tanpa pikir panjang akan melakukan proses  sama di tempat yang sama.

Kalau dia ternyata gagal, ya otomatis saya akan cari tempat lain dong. Kali ini pokoknya rambut saya harus berwarna putih. 😤

Tuesday, April 27, 2021

Hari Kedua Puluh Dua

Hari ini jari telunjuk kiri saya sudah pulih total dari luka beberapa waktu lalu. Sebelum event di Grand Hyatt jari telunjuk saya terpotong oleh cutter ketika saya sedang memotong kertas foto untuk cue card yang akan dipakai MC saat event berlangsung nantinya.

Cepat juga sembuhnya. Padahal teririsnya cukup dalam, tidak sampai putus sih, tapi ya cukup membuat darah bercucuran mengotori lantai dua sebuah ruko di komplek bisnis The Savoy daerah Jakarta Garden City.

Ketika teriris, sakit yang saya rasakan tidak langsung datang, ada jeda beberapa menit barulah rasa perihnya terasa. Sakitnya bertahan selama berhari-hari kalau tidak berminggu-minggu.

Jeda dulu baru sakitnya datang.

Itu yang saya khawatirkan akan terjadi kepada saya atas sakit yang lain. Ketika berpisah kemarin kebetulan rasa sakitnya langsung datang, membuat lima hari pertama menjadi hari-hari yang jauh sekali dari kata "menyenangkan". Setelahnya barulah berangsur-angsur rasa itu hilang. Takutnya gelombang kesedihan itu mampir lagi di waktu lain di masa depan pada saat yang tidak saya harapkan.

Saya pernah melihat pernyataan berkonsep menye-menye yang isinya kurang lebih bilang bahwa wanita dan pria setelah putus akan mengalami perjalanan yang berbeda. Pada wanita mereka akan galau di fase pertama, kemudian bahagia di fase kedua. Sedangkan pria kebalikannya, bahagia dulu baru galau setelahnya.

Dilihat dari yang sudah saya alami, kebetulan saya malah merasa sedih dahulu kemarin. Sekarang saya bisa bilang saya sudah move on dari perasaan sedih yang lampau. Lalu saya berpikir, bagaimana dalam perjalanannya, saya mengalami fase yang berbeda? Sedih, bahagia, lalu sakit kembali. Seperti ketika teriris yang memberikan sakit di awal, lalu kebas, dan barulah puncak perihnya datang.

Dengan segala pengetahuan yang saya punya dan apa saja yang saya lakukan, saya rasa tidak. Walaupun saya tidak bisa melihat ke masa depan, saya hanya bisa yakin kalau tidak.

Oh bagaimana dengan jarinya? Tentunya sudah tidak terlihat lagi lukanya...~

Good as new!

Monday, April 26, 2021

Hari Kedua Puluh Satu

Dari awal tahun saya sudah merencanakan mencari tempat untuk ngekos, tapi tidak ada upaya apa pun terkait hal itu sampai seminggu lalu. Hahaha.

Tujuan saya ingin ngekos bukan karena malas dekat dengan keluarga atau alasan lainnya yang berhubungan dengan masalah keluarga di rumah, keluarga di rumah baik-baik saja dan saya sama mereka juga tidak ada masalah apa pun. Saya merencanakan demikian karena saya kangen ngekos. Mau tinggal dan urus tempat yang saya tinggali sendiri

Hidup sendiri dengan orang-orang baru yang menjadi tetangga, bersosialisasi dengan mereka, dan mengurus segala hal berbau tempat tinggal sendiri. Hal-hal seperti itu yang saya rindukan. 

Seminggu lalu saya sudah coba mencari kosan daerah Cakung. Tujuannya ya tentu supaya dekat dengan tempat kerja juga. Saya mencari yang sudah lengkap: ada kasur, lemari, AC, dan hal lainnya, jadi saya tinggal datang dan menempatinya. Dana yang saya siapkan untuk biaya kos sebulan maksimal dua setengah juta.

Sudah memilah beberapa tempat yang kiranya berpotensi menjadi tempat tinggal dan berencana survei suatu saat nanti, lalu saya baru ingat tadi siang kalau Mei nanti mesti cari rumah di daerah Pondok Kopi atau Pondok Kelapa untuk disewa dijadikan kantor, karena kantor berencana pindah dari Cakung.

Dicoretlah daftar calon kos potensial dan saya urungkan niat ngekos lagi sampai pindah tempat kerja dahulu.

Kalau saya orang Sunda, mungkin saya sudah menggumam "sia-sia, sia." karena upaya saya seminggu belakangan tak berguna.

Sunday, April 25, 2021

Hari Kedua Puluh

Sudah masuk hari kedua puluh saya memulai terapi menulis ini. Saya tidak tahu apakah sekarang perasaan saya membaik karena menulis atau karena memang waktu yang menjadi obat mujarab. Entahlah, mungkin  keduanya berperan penting dalam proses penyembuhan. Juga banyak faktor lainnya di luar itu.

"Tidak lagi cinta" tentunya bukan salah satu faktor.

Ketika kami berpisah, saya masih amat sayang kepadanya. Itulah alasannya kenapa semua rentetan peristiwa kemarin beserta latar belakangnya berakhir begitu menyakitkan untuk saya. Saya tidak siap untuk tidak menyayanginya lagi seperti enam setengah tahun sebelumnya.

Semenjak itu rasa sayangnya saya paksa untuk pudar. Tidak hilang, hanya berkurang. Kalau tidak saya paksakan, bisa saya bayangkan kalau saya saat ini masih belum bisa berfungsi dengan baik karena masih dilanda rasa amat sakit di hati, yang juga pada akhirnya mempengaruhi kondisi kesehatan fisik saya.

Kini pun masih ada rasa sayang walaupun tidak seperti dulu.

Kemarin adalah minggu ketiga kami berpisah, dan hari ini adalah minggu ketiga kami terakhir bertatap muka jarak jauh. Sayangnya tidak secara langsung karena kondisi tidak memungkinkan, namun untuk situasi seperti ini saya rasa sudah cukup.

Saya bilang kepada dirinya ketika video call tiga minggu lalu kalau alasan saya mengajaknya bertatap muka virtual adalah untuk melihatnya sekali lagi. Mengobrol dengan melihat wajahnya yang masih terbingkai di kepala sebagai sosok pasangan saya. Saya senang melihatnya saat itu, namun juga sedih.

Di saat-saat terakhir hubungan kami, saya tidak bisa memeluknya sambil membisikkan kalimat perpisahan. Berterima kasih kepadanya karena dia sudah menemani saya menjalani hubungan yang menyenangkan bersama saya selama enam setengah tahun ke belakang. Juga meminta maaf kepadanya atas segala kesalahan saya selama ini.

Hal-hal seperti itu sebenarnya ingin saya sampaikan secara langsung sambil memeluk tubuhnya yang kecil bila dibandingkan badan saya yang tinggi, dan mengecup kening dia untuk terakhir kalinya, namun tidak bisa karena jarak dan waktu menjadi penghalang. Panggilan video adalah satu-satunya cara yang mendekati, paling tidak saya bisa melihatnya.

Tiga minggu sudah ya ternyata. Sekarang saya melihat saya sudah berada di tempat yang berbeda dengan saya yang tiga minggu lalu. Not totally healed yet, but better than before.

Saya tidak tahu bagaimana kabar dia sekarang karena salah satu cara saya move on adalah tidak berkomunikasi aktif dan pasif dengannya sampai saya benar-benar pulih, namun saya berharap untuk dirinya agar pasca berpisah kemarin dia tidak berlarut-larut dalam biru, fokus kepada dirinya agar bisa menjadi lebih baik, dan dapat lekas menggapai impiannya.

Sekarang ini, murni saya sangat berharap dia bahagia.


Saturday, April 24, 2021

Hari Kesembilan Belas

Saya baru saja selesai mengerjakan event Paskah dari suatu BUMN yang amit-amit panitianya. Sulit dihubungi, banyak input yang masuk pada detik terakhir, revisi yang datang di penghujung tenggat waktu karena respon interal mereka yang lama. Tapi tentunya berakhir dengan kesuksesan.

Bukan event teribet, tapi maha rempong.

Walaupun begitu orang-orangnya ramah dan menyenangkan. Namun untuk kerja sama kembali sepertinya kami tidak mau lagi. Itu pun yang disampaikan rekan saya.

Saya banyak sekali mengobrol tentang agama dengan beberapa klien instansi ini. Wawasan saya tentang agama sebelah makin bertambah. Mendapatkan insight lebih. Hell, bahkan saya tertarik untuk datang ke gereja lagi.

Tapi seperti yang saya bilang tadi, untuk kerja sama sepertinya tidak lagi. Sangat disayangkan, padahal saya akan senang sekali kalau hubungan ini akan menjadi pertemanan di kemudian hari. Tentunya untuk menjadi teman, frekuensi komunikasi harus diperbesar agar kedekatan yang lebih kuat tercipta, melalui kerjaan contohnya. Tapi yaaa gimana ya? Hahaha.

 Aaah, andai saja mereka lebih profesional.

Hari Ketiga Puluh

Tiga puluh hari sudaaaaaaah! Tiga puluh hari sudah saya menulis rutin di sini. Tulisan tentang rasa walaupun sepertinya curhat sendu bukanla...