Sudah masuk hari kedua puluh saya memulai terapi menulis ini. Saya tidak tahu apakah sekarang perasaan saya membaik karena menulis atau karena memang waktu yang menjadi obat mujarab. Entahlah, mungkin keduanya berperan penting dalam proses penyembuhan. Juga banyak faktor lainnya di luar itu.
"Tidak lagi cinta" tentunya bukan salah satu faktor.
Ketika kami berpisah, saya masih amat sayang kepadanya. Itulah alasannya kenapa semua rentetan peristiwa kemarin beserta latar belakangnya berakhir begitu menyakitkan untuk saya. Saya tidak siap untuk tidak menyayanginya lagi seperti enam setengah tahun sebelumnya.
Semenjak itu rasa sayangnya saya paksa untuk pudar. Tidak hilang, hanya berkurang. Kalau tidak saya paksakan, bisa saya bayangkan kalau saya saat ini masih belum bisa berfungsi dengan baik karena masih dilanda rasa amat sakit di hati, yang juga pada akhirnya mempengaruhi kondisi kesehatan fisik saya.
Kini pun masih ada rasa sayang walaupun tidak seperti dulu.
Kemarin adalah minggu ketiga kami berpisah, dan hari ini adalah minggu ketiga kami terakhir bertatap muka jarak jauh. Sayangnya tidak secara langsung karena kondisi tidak memungkinkan, namun untuk situasi seperti ini saya rasa sudah cukup.
Saya bilang kepada dirinya ketika video call tiga minggu lalu kalau alasan saya mengajaknya bertatap muka virtual adalah untuk melihatnya sekali lagi. Mengobrol dengan melihat wajahnya yang masih terbingkai di kepala sebagai sosok pasangan saya. Saya senang melihatnya saat itu, namun juga sedih.
Di saat-saat terakhir hubungan kami, saya tidak bisa memeluknya sambil membisikkan kalimat perpisahan. Berterima kasih kepadanya karena dia sudah menemani saya menjalani hubungan yang menyenangkan bersama saya selama enam setengah tahun ke belakang. Juga meminta maaf kepadanya atas segala kesalahan saya selama ini.
Hal-hal seperti itu sebenarnya ingin saya sampaikan secara langsung sambil memeluk tubuhnya yang kecil bila dibandingkan badan saya yang tinggi, dan mengecup kening dia untuk terakhir kalinya, namun tidak bisa karena jarak dan waktu menjadi penghalang. Panggilan video adalah satu-satunya cara yang mendekati, paling tidak saya bisa melihatnya.
Tiga minggu sudah ya ternyata. Sekarang saya melihat saya sudah berada di tempat yang berbeda dengan saya yang tiga minggu lalu. Not totally healed yet, but better than before.
Saya tidak tahu bagaimana kabar dia sekarang karena salah satu cara saya move on adalah tidak berkomunikasi aktif dan pasif dengannya sampai saya benar-benar pulih, namun saya berharap untuk dirinya agar pasca berpisah kemarin dia tidak berlarut-larut dalam biru, fokus kepada dirinya agar bisa menjadi lebih baik, dan dapat lekas menggapai impiannya.
Sekarang ini, murni saya sangat berharap dia bahagia.